Senin, 23 Maret 2009

UMAT ISLAM WAJIB MEMBANTU PERJUANGAN PALESTINA

Palestina adalah tempat kelahiran serta tempat tinggal sebagian besar para Rasul dan Nabi dalam menyebarkan agama Islam. Di Palestina pula terletak Masjid Al-Aqsha, masjid yang sangat bersejarah dalam perjalanan Nabi Muhammad saw ketika peristiwa Isra Mi’raj serta sebagai kiblat pertama umat Islam.
Namun apa yang terjadi sejak tahun 1948 hingga kini, tempat suci dan bersejarah bagi umat Islam tersebut terus diserang bangsa Yahudi, yaitu Israel dan para sekutunya. Umat Islam di Palestina dibunuh dengan keji, termasuk para wanita dan anak-anak yang tak berdosa. Tentara Israel yang didukung oleh Amerika Serikat seolah tak ada puasnya membombardir negara Palestina, dengan tidak berprikemanusiaan.
Serangan-serangan Israel yang menewaskan sekitar lebih dari 500 warga Palestina dalam sepekan serta ribuan lainnya terluka, telah menjadi perhatian dunia khususnya negara-negara Islam. Memang sudah semestinya umat Islam ikut membantu warga Palestina. Bantuan yang diberikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dapat berupa kebendaan (obat-obatan/medis), doa, hingga berjihad melawan kekufuran kaum zionis israel laknatullah.
Bagi yang peduli dengan penderitaan saudara kita di Palestina, kita harus berdoa demi keselamatan dan kebebasan bumi Palestina dari ancaman kaum zionis. Sebagai sesama umat Islam, kita wajib membantu saudara kita yang berada di Palestina. Bila seluruh umat Islam bersatu, Insya Allah akan bisa menghapuskan kezaliman dan penindasan di Palestina.

Rabu, 04 Maret 2009

mEMAKNAI Cinta yang sesungguhnya

Beberapa waktu yang lalu, sepulang mengantar istri ke kuliah, saya menaiki Bis 939 jurusan Hay Asyir. Bisnya lumayan penuh, tidak ada tempat untuk duduk. Dalam keramaian tersebut saya bertemu dengan Ziyad.
Ziyad adalah salah seorang teman dekat saya. ia baru menyempurnakan setengah agamanya. Saya turut hadir dalam acara pernikahannya dan ikut merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.
Sudah begitu lama kami menjalin ukhuwah. Itu berawal saat pertama kali saya bertemu dengannya ketika shalat di mesjid dekat apartemen saya. Pertemuan pertama memberi kesan yang kuat dalam hati saya, dari tutur kata, keramahan dan sikapnya membuat saya kagum dan tertarik untuk lebih jauh mengenalnya. Hingga pada akhirnya terjalinlah hubungan yang erat diantara kami.
Ia saya kenal sebagai seorang yang taat menjalankan agama. Di kalangan teman-teman, ia dikenal supel dan simpatik. Kata-katanya selalu memompa semangat yang lagi kendor, tak heran banyak yang datang padanya kalau lagi futur. Bijak memilih kata-kata sebelum diucapkan dan yang paling membuat saya merasa salut, ia setiap hari selalu menyediakan waktu untuk berziarah. Full aktivitas, kendati demikian, ia tak pernah kehilangan kesempatan shalat berjama’ah di mesjid, shaf terdepan dan takbir pertama bersama imam.
Walau telah menikah, shalat jama’ah tak pernah absen dan untuk berziarah selalu ada waktu yang ia sediakan.
Saya masih ingat dengan kata-kata yang ia ucapkan pada saya sebelum hari pernikahannya, ketika saya bertanya padanya tentang makna sebuah cinta. Ia berkata,
“Akhi, dari lubuk hati yang paling dalam, dengan jujur saya lebih mencintai Allah, RasulNya dan jihad dijalanNya. Kecintaan yang melebihi kecintaan saya atas segalanya, atas kedua orang tua dan diri saya sendiri.
Saya menikah semata-mata hanya karena Allah, untuk Allah dan mengharap ridha dan pahala dari Allah.
Saya mendambakan seorang istri yang solehah, yang membantu saya dalam ketaatan dan kebaikan. Ketika saya benar, ia tidak ragu untuk mendukung saya, ketika saya salah, ia tidak segan, malu dan takut untuk menegur dan mengingatkan saya dengan cara yang baik, lembut dan penuh kebijaksanaan.
Seorang istri yang ketika saya melihat padanya, hati saya merasa tenang, ketika saya perintah ia patuh, ketika saya tinggalkan, ia menjaga harta dan dirinya. Seorang istri yang mencintai saya sepenuhnya yang selalu mengharap ridha saya dan yang menyerahkan pengabdian hidupnya pada saya.
Seorang istri yang bersegera ketika saya ajak pada kebaikan dan ikhlas menerima perbaikan ketika ternyata ia telah keliru dan salah.
Namun, bila istri tidak patuh pada saya, mengangkat suara dihadapan saya, meninggikan diri dihadapan saya, selalu lambat ketika saya ajak pada kebaikan dan ketaatan, lalai dengan tugas dan tanggung jawab serta enggan dinasehati.
Terlena dengan kehidupan duniawi. Lebih mencintai dunia dari pada akhirat, tidak patuh pada perintah Allah dan RasulNya, dan tidak mendukung saya ketika saya benar, tidak mengingatkan ketika salah dan tidak mau menerima nasehat.
Maka, ketahuilah akhi, saya ikhlas berpisah dengannya dan saya tidak akan ragu dan takut sedikitpun untuk menceraikannya, walau ia cantik sekalipun. Saya yakin dengan janji Allah, bahwa Allah pasti akan memberi saya ganti yang lebih baik. Rahmat Allah maha luas, khazinah Allah tidak akan pernah habis dan tidak sulit bagi Allah untuk itu.”
Dan pertemuan di Bis tersebut adalah kesempatan bagi saya untuk memintanya bercerita tentang keadaannya saat ini dan sayapun bertanya, “Apakah akhi telah menemukan bidadari impian akhi?” ia menjawab,
“Alhamdulillah akhi, innaha lani’ma zaujah, Allah telah mengabulkan proposal yang saya ajukan sejak tiga tahun yang lalu, persis seperti yang saya minta dalam do’a saya pada Allah. Saya bersujud syukur pada Allah, Allah telah mengaruniakan saya seorang bidadari berhati embun, cahaya dan pelangi. Keindahan diatas keindahan.”
“Barakallahu laka wa Baraka ‘alaika wajama’a Bainakuma fikhairin Akhi Ziyad.”
Bila kita tengok kebelakang, para salafus soleh telah membuktikan cinta mereka pada Allah dan RasulNya.
Anas r.a berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Tiga hal yang jika terdapat dalam diri seorang muslim, maka dia akan dapat merasakan manisnya iman, yaitu: 1. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi kecintaan dari segalanya, 2. Mencintai seseorang semata-mata karena Allah, 3. Benci untuk kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan kedalam neraka.”
Suatu ketika Umar bin khatab berkata, “Wahai Rasulullah, saya mencintaimu lebih dari segalanya kecuali nyawa saya, kemudian Nabi bersabda, “Seseorang tidak akan menjadi mukmin yang sempurna sebelum dia lebih mencintai aku dari pada dirinya sendiri, lalu Umar berkata lagi, “Sekarang saya mencintai engkau lebih dari diri saya sendiri, Beliau bersabda, “Sekarang ya Umar ( sudah sempurna keimananmu ).
Sungguh sangat banyak kisah kecintaan para salafus soleh pada Allah, Rasul dan semangat mereka berkorban dijalan Allah yang terukir dalam sejarah. Mereka generasi terbaik umat ini. Generasi pilihan yang diabadikan namanya dalam Al-Qur’an. Setiap lembar sejarah senantiasa menempatkan mereka pada urutan pertama dalam kemuliaan dan pengorbanan.
Nah, sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, kemudian jawablah dengan jujur, “Apakah saya telah mencintai Allah dan RasulNya melebihi atas segalanya?”.

TUTUPLAH AURATMU WAHAI MUSLIMAH

Menginginkan kecantikan dan suka kepada kecantikan tidak menjadi suatu kesalahan. Hal tersebut adalah fitrah manusia. Semua orang secara wajar ingin nampak cantik. Bukan hanya itu, Allah yang kita sembah itu pun sangat cantik. Rasulullah s.a.w menegaskan dalam satu hadisnya, Allah itu indah dan suka pada keindahan. Keindahan Allah terletak pada sifat-sifat kesempurnaan-Nya.Allah juga cinta pada keindahan, sebab itulah Islam yang diturunkan oleh Allah untuk menjadi panutan manusia ini juga sangat indah. Dan salah satu ciri keindahan Islam ialah ajarannya sangat cocok dengan fitrah semula jadi manusia. Jika ada orang yang mengatakan Islam itu tidak indah, bukan Islam yang tidak indah tetapi jiwa orang itu yang tidak indah. Begitu jugalah dunia ciptaan Allah ini, ia juga sangat indah. Wanita juga adalah ciptaan Allah dan tentu saja wanita cantik. Yang menjadi masalah, di manakah letaknya kecantikan sebenar pada seorang wanita? Kalau kita berbagai manusia, maka sudah pasti kita akan temui berbagai jawapan. Ada yang merasakan kecantikan wanita itu pada wajah, pada bentuk tubuh, pada kebijaksanaan atau pada tingkah lakunya. Dan yang menyatakan kecantikan pada wajah ada pula tergantung pada beberapa hal atau pandangan, ada yang mengatakan kecantikannya terletak pada hidung, pada mata dan sebagainya. Pendek kata kecantikan itu sangat relatif sifatnya. Lain orang, lain penilaiannya. Namun sebagai seorang Islam, kita tentulah ada tolok ukur tersendiri untuk menilai kecantikan. Kita tentunya mengukur kecantikan wanita mengikut tolok ukur Islam. Dan tentu saja kecantikan yang menjadi penilaian Islam adalah lebih hakiki dan abadi lagi. Misalnya, kalaulah kecantikan itu hanya terletak pada wajah, wajah itu lambat-laun akan dimakan usia. Itu hanya bersifat sementara. Apabila usia menua, kulit akan berkedut, tentulah wajah tidak cantik lagi. Jadi tentulah ini bukan ukuran kecantikan yang sejati dan abadi. Sebagai hamba Allah, kita hendaklah melihat kecantikan selaras dengan penilaian Allah atas keyakinan apa yang dinilai oleh- Nya lebih tepat dan benar. Apakah kecantikan yang dimaksudkan itu? Kecantikan yang dimaksudkan ialah kecantikan budi pekerti ataupun akhlak. Kecantikan ini jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan yang hakiki sesuai penilaian Allah. Kecantikan akhlak adalah satu yang abadi. Malah akhlak yang baik juga sangat disukai oleh hati manusia.Ya, mata menilai kecantikan pada rupa. Akal menilai pada fikiran yang cerdik. Nafsu menilai pada bentuk tubuh yang menarik. Tetapi hati pulalah menilai kecantikan pada akhlak dan budi. Dan kecantikan akhlak ini lebih diterima oleh semua orang berbanding kecantikan wajah dan tubuh badan. Cantik tidak salah, tetapi salah menggunakan kecantikan itulah yang salah. Kata orang, wanita yang cantik jarang berakhlak. Umpama bunga yang cantik, jarang yang wangi. Tetapi kalau cantik dan berakhlak pula, inilah yang hebat. Umpama cantiknya wanita solehah pada zaman nabi seperti Siti Aishah r.a, Atikah binti Zaid dan lain-lain. Oleh karena itu dapatkanlah kecantikan sejati. Carilah wajah hati dan rupa budi yang menawan. Ingatlah bahwa kecantikan itu bermula dari dalam ke luar. Bukan sebaliknya. Oleh itu, pertama, tanamkan di dalam hati kita iman berdasarkan ilmu yang tepat dan penghayatan yang tinggi. Kemudian iman ini buktikanlah dengan perbuatan yang baik. Jadi perkara kedua ialah susulilah iman itu dengan perbuatan yang baik. Atur kehidupan mengikut syariat atau peraturan Tuhan. Apabila iman ditanam, syariat ditegakkan, akan berbuahlah akhlak yang mulia. Wajah, perilaku dan pribadi kita akan nampak cantik sekali. Inilah yang dikatakan kecantikan yang hakiki. Begitu juga, rambut yang dianggap sbg "mahkota wanita" itu hendaklah ditutup. Ini bukanlah bererti menutup kecantikan wanita. Kecantikan itu tidak seluruhnya terletak pada rambut, hingga menutup rambut boleh menghilangkan kecantikan wanita. Ya, memang rambut mahkota wanita, justru mahkotalah ia tidak boleh dipamerkan sesuka hati. Begitulah rambut kepada wanita, jika ia dianggap mahkota maka ia perlu disimpan dengan baik. Ditutup dengan kain yang sopan. Dan hanya dipamerkan kepada orang yang berhak yakni kepada muhrimnya. Tidak, kecantikan wanita tidak akan terlindung hanya dengan dia menutup tudungnya, kerana ada banyak kecantikan lagi yang boleh dipamerkannya. Misalnya, kecantikan tuturkata, tingkah laku dan budi pekerti. Bagaimana masih boleh kelihatan cantik walaupun telah menutup aurat? Seperti yang telah dikatakan tadi, jagalah hal-hal yang lain yang boleh dipamerkan. Misalnya, wajah kita biarlah bercahaya, pakaian kita kemas, muka kita bersih dan pandangan kita lembut. Tutuplah Aruratmu wahai ukhtee tidak ada alasan untuk membantah ketentuan Allah. Cantik dimata Allah lebih utama daripada cantik dimata manusia

4 HAL UTAMA MENJADI MUSLIMAH

Menjadi wanita memang menyenangkan, apalagi wanita "Muslimah", sebab muslimah berarti wanita yang telah diseleksi oleh Allah untuk menerima hidayah-Nya dan menjalankan kehidupan sesuai dengan sunnah Rasul-Nya. Rasulullah sebagai manusia pilihan Allah, sangat peduli terhadap muslimah. Beliau sangat menyayangi muslimah sehingga beliau berpesan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Tidaklah seorang muslim yang mempunyai anak dua orang perempuan kemudian ia berbuat baik dalam berhubungan dengan keduanya akan bisa memasukannya ke dalam surga." Di masa beliau hidup kaum wanita merasakan angin segar dalam kehidupannya, setelah sebelumnya pada masa jahiliyah hidup teraniaya, tidak mendapatkan hak yang semestinya. Kehidupan wanita muslimah saat itu boleh dikata beruntung dibandingkan dengan wanita sekarang pada umumnya. Karena muslimah relatif hidup dalam komunitas masyarakat yang memahami nilai Islam secara baik. Hidup mereka betul-betul tersanjung, karena mereka merasakan hidup sesuai fitrahnya. Berbeda dengan situasi sekarang, ketika banyak wanita menuntut emansipasi, persamaan derajat. Boleh dikatakan kehidupan wanita sekarang berada ditengah komunitas masyarakat yang tidak memahami nilai-nilai Islam. Ini menyebabkan ketidaknyamanan dalam hidup mereka. Sudah tentu wanita muslimah harus berupaya menghilangkan ketidaknyamanan tersebut. Caranya adalah dengan mulai mengaktifkan dirinya dalam pelaksanaan nilai-nilai Islam serta berupaya mengaktivisir wanita lain untuk beramal Islami. Ustadz Faisal Maulawi, seorang Mufti Libanon, menyatakan, "Saatnya sekarang kondisi ummat sedang dalam keadaan bahaya, para wanita muslimah yang sholihah terjun untuk terlibat aktif dalam membentengi dan memperbaiki ummat." Untuk menjadi muslimah yang disayang oleh Rasulullah SAW hendaknya diperhatikan empat hal berikut: 1. Faqihah Lidiiniha Seorang muslimah hendaknya faqih (paham) terhadap din (agamanya). Selayaknya ia dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dalam arti pas tajwid dan makhorijul hurufnya. Kemudian dapat membaca hadits dan selalu pula menjadi bacaan hariannya, karena dengan itu ia memahami keinginan Rasulnya untuk kemudian berusaha menyesuaikan kehidupannya sesuai dengan cara hidup Rasulullah SAW. Setelah itu ia berusaha menyesuaikan kehidupannya sesuai dengan cara hidup Rasulullah SAW. Ia juga harus berusaha memperkaya diri dan wawasannya melalui belajar kepada seorang guru yang jujur dalam menyampaikan ilmunya, dan berusaha banyak membaca buku agama lainnya seperti tentang aqidah, akhlaq, fiqh, siroh, fiqh da'wah, Tarikh Islam, sejarah dunia dan ilmu kontemporer lainnya. Contoh muslimah yang menguasai ilmu-ilmu ini adalah Aisyah RA. 2. Najihah fi Tarbiyyati Auladiha Seorang aktifis muslimah yang telah berkeluarga hendaknya mengupayakan kesuksesan dalam mendidik anaknya, bahkan bagi bagi seorang aktivis yang belum berkeluargapun seharusnya mempelajari bagaimana cara mendidik anak dalam Islam, karena ilmu tersebut fardhu 'ain, sehingga mempelajarinya sama dengan mempelajari wudhu, sholat, shoum, dan yang lainnya. Sehingga ia tahu betul cara mendidik anak dalam Islam yang nantinya anak-anak tersebut akan ia persembahkan untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin. Insya Allah kelak ia akan menjadi Ibu yang sukses seperti Hajar dan Khadijah ra. 3. Muayyidah fi Da'wati Zaujiha Sebagai aktifis amal Islami, kepedulian kita bukan hanya kepada masalah eksternal, mengupayakan pelaksanaan amal Islam terhadap orang lain, akan tetapi kepedulian terhadap aktifitas keluarga harus lebih diutamakan, misalnya memberikan motivasi amal Islami kepada anak, pembantu, juga suami. Ia menjadi muslimah yang senantiasa menjadi motivator kebaikan suaminya, seperti Ummu Sulaim yang menikah dengan Abu Tholhah dengan mahar syahadat. Namun ketika Abu Tholhah wafat Rasulullah mensholatkannya sampai sembilan kali takbir, saking sayangnya Rasulullah kepada beliau karena tidak pernah absent dalam beramal dan berjihad bersama Rasul. Hal ini ia lakukan karena selalu mendapat motivasi dari Ummu Sulaim, istrinya. 4. Naafi'ah Fi Tagyiiri Biiatiha Ia selalu peduli terhadap lingkungannya, selalu membuka mata dan telinga untuk mengetahui kondisi lingkungannya, berusaha menjadi anashir tagyiir (unsure perubah) dalam lingkungannya, selalu mengupayakan lingkungannya menjadi lebih baik. Contohnya Ummu Syuraik yang selalu mengelilingi pasar bila saat sholat tiba untuk mengingatkan penghuni pasar agar segera melaksanakan sholat dengan kalimatnya yang terkenal 'Assholah, Assholah!!!' Demikian semoga dengan empat hal ini kita dapat menjadi aktifis Muslimah yang di cintai Rasulullah SAW. Amin. (Ustadzah Yoyoh Yusroh)

BUDAYA KUFUR



slam adalah akidah dan syariah, didalamnya mengatur seluruh kehidupan manusia dan tidak ada satupun kehidupan yang tidak diatur oleh islam, setiap muslim wajib mengikatkan seluruh perbuatannya dengan hukum syara, diharamkan ia melakukan perbuatan tanpa menyetahui status hukumnya sebagaimana kaidah fikih, mengatakan 'al aslu fi al af'al ataqiyudu li al hukmi syar'i yang artinya "Asal (produk hukum) perbuatan itu terkait dengan hukum-hukum syara". Allah swt berfirman dalam Quran surah An Nisa : 65 "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya"Jelaslah dari ayat-ayat diatas, setiap muslim wajib mengikatkan seluruh perbuatannya dengan apa yang Allah turunkan Al Quran dan As Sunnah, dan dilarang keras kita mengambil hukum selain dari hal tersebut. Tidak dijadikan akidah islam sebagai ikatan pemutus seluruh perbuatan manusia dewasa ini merupakan faktor kenapa banyak remaja sekarang terperosok dalam perbuatan haram, disamping itu ketidakpahaman mereka terhadap hal tersebut, dan budaya ikut-ikutan memainkan peranan ini'Berkasih-sayang' versi 'Valentine'an ini, haruslah diketahui terlebih dahulu hukumnya, lalu diputuskan apakah akan dilaksanakan atau ditinggalkan. Dengan melihat dan memahami asal-usul serta fakta pelaksanaan Valentine's Day, sebenarnya perayaan ini tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan corak hidup seorang Muslim. Tradisi tanpa dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan manusia (kaum/bangsa) yang hidup dengan corak yang sangat jauh berbeda dengan corak hidup berdasarkan syariat Islam yang agung. Jika kita fahami nas-nas syara' dengan lebih mendalam, akan kita dapati aturan yang tegas terhadap masalah ini, antara lain firman Allah SWT: " Dan jangan lah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban (Al Isra' : 36)Maka apalagi yang kita tunggu selain meninggalkan bentuk pengekoran acara valentine day itu, marilah serkarang kita mulai meninggalkan sesuatu yang memang wajib diingkari, dan memulai untuk berusaha menerapkan ajaran-ajaran islam, memilih-milih mana perkara yg tdk bertentangan dengan islam kita ambil, sementara perkara yg bertentangan dengan islam kita tolak dan tinggalkan.

Selasa, 03 Maret 2009

_Awal Ibadah Yang Indah Yakni saaT Kita Melawan Rasa Kamalasan_


Assalamu'alikummmm...................

Jgan Jadikan Penyesalan Sebagi guru dari kekalahan....berusahalah jagan mengenalnya, bahkan takut untuk dekat-dekat dengannya........